Dr. Dewanto Andoko: Peserta Resmi di Wonca World Rural Health Conference 2026
dr. Dewanto Andoko , seorang dokter yang menjadi utusan personal dari Indonesia dan ‘representing and as an official delegate’ of ADPTI/IRRDA untuk menghadiri 21st WONCA World Rural Health Conference 2026 di Tākina Wellington Convention & Exhibition Centre, Wellington, Aotearoa New Zealand
Syarhan
5/3/20266 min baca
Assalamu Alaikum wr. wb, salam sejahtera, salam kebajikan, dan salam pedesaan bagi kita semua, terkhusus bagi seluruh dokter, nakes, serta siapapun yang tetap konsisten mendukung layanan kesehatan pedesaan dan terpencil Indonesia. Berikut kami persembahkan perjalanan penuh makna dari dr. Dewanto Andoko , seorang dokter yang menjadi utusan personal dari Indonesia dan ‘representing and as an official delegate’ of ADPTI/IRRDA untuk menghadiri 21st WONCA World Rural Health Conference 2026 di Tākina Wellington Convention & Exhibition Centre, Wellington, Aotearoa New Zealand.
Hari ini, Jumat - 10/4/2026 jam 06.19 dr. Dewanto Andoko, menyapa saya ‘Selamat pagi, Dokter Syarhan, izin melaporkan, kemarin saya berkesempatan menghadiri Rural WONCA Assembly 2026. Sebagai informasi, kepengurusan saat ini telah berganti dan dipimpin oleh dr. Pratyush Kumar dari India sebagai Chair. Lanjut, dr. Dewanto Andoko: Dalam kesempatan tersebut, saya sempat berbincang dengan para pengurus dan penasihat (dr. Bruce Chater, Richard Colbrand, dan Gavin Parker). Beliau semua menanyakan kabar rekan-rekan Rural Doctors di Indonesia (IRRDA/ADPTI), khususnya menanyakan Dokter selaku Council Member dari Indonesia.
Mereka sangat berharap Indonesia bisa lebih aktif lagi dan mengundang Dokter untuk hadir dalam Rapat Council Rural WONCA yang akan diadakan saat TUFH Conference di Manila, 4-7 Agustus 2026 (acara dr. Aileen Espina). Jika Dokter berhalangan hadir, mereka menyarankan agar Dokter dapat menunjuk delegasi dari Indonesia. Bahkan mereka sempat memberikan saran, apabila belum ada kandidat lain, saya bisa didelegasikan untuk mewakili Dokter dalam pertemuan tersebut.
Dr. Dewanto Andoko: ‘ Mohon arahan Dokter terkait undangan ini. Terima kasih, Dok.’ Kemudian saya memutuskan untuk menyetujui dr. Dewanto untuk menjadi utusan resmi ADPTI atau IRRDA untuk headir sebagai delegasi Indonesia pada pertemuan TUFH di Manila.
Baik dokter, rencananya nanti dr. Pratyush akan Whatsapp dokter secara pribadi untuk membahas hal ini.. besok jam 7-8 pagi, saya juga diminta hadir sebagai delegasi dalam Rural GP Chapter Meetings untuk menyaksikan proses penandatanganan Rural WONCA Aotearoa Declaration. Terlampir saya sertakan draf deklarasi tersebut sebagai bahan pertimbangan Dokter sebagai Rural Council Member.
Perbincangan hangat pagi ini dengan dr. Dewanto memberikan inspirasi besar bagi kita semua yang peduli kesehatan pedesaan dan terpencil Indonesia untuk terus meningkatkan upaya bersama melalui kolaborasi dalam menguatkan perjuangan bersama. Sekilas saya sampaikan bahwa dr. Dewanto Andoko adalah seorang dokter yang berdedikasi tinggi dan memiliki minat bagi pengembangan kesehatan pedesaan yang lebih baik, beliau saat ini bekerja di salah satu RS swasta di lanpung dan sedang menjalani pendidikan sebagai Residen Spesialis di Prodi KKLP FK Universitas Pelita Harapan. Perkenalan dan interaksi dengan beliau saat menjalankan residensi klinik di Klinik Insepar (Parungponteng-Tasikmalaya)
Mari kita menikmati kopi pagi, siang, atau malam hari ini sambil mendengar pengalaman luar biasa dr.Dewanto Andoko, selama mengikuti 21st WONCA World Rural Health Conference 2026 di Tākina Wellington Convention & Exhibition Centre, Wellington, Aotearoa New Zealand.


(Hari pertama di NZ) : 4 April 2026. Mendarat di Auckland airport, sampai di Auckland, ketinggalan bis jam 10 pagi, terpaksa naik bis jam 13, perjalanan bis 5 jam sampai di Hauora Hokianga Hospital di Rawene untuk Rural Observership selama 5 hari.
(Hari kedua di NZ) : bangun tidur, kamar seaview, keliling RS Hauora Hokianga Rawene mereka sudah sustainable, punya cadangan air yang dibagi untuk seluruh komunitas, dan punya solar panel sendiri, ada Helipad untuk transport pasien STEMI, Spinal Injury, dan layanan lainnya. Rumah Sakit dibangun tahun 1906, 1993 diakuisisi komunitas Maori menjadi Hauora Hokianga Trust yg di manage oleh komunitas dan didukung pemerintah untuk everyday running jadi semua free.
(Masih hari kedua, keliling desa Rawene) Lanjut ikut upacara graduation Rhakau Whakamaru program Rehab A&D difasilitasi Kaiawhina, selain upacara kelulusan ada tarian Haka oleh para lulusan, salam Hongi dengan semua orang (sharing the breath of life), dan mencoba masakan lokal mereka (Hangi, earth oven baked meat and vegetables), seperti daerah lain maka tiap daerah ada dialek tertentu, daerah Hokiangan mereka Te Reo Maori.


(Masih hari kedua, keliling desa Rawene) Lanjut ikut upacara graduation Rhakau Whakamaru program Rehab A&D difasilitasi Kaiawhina, selain upacara kelulusan ada tarian Haka oleh para lulusan, salam Hongi dengan semua orang (sharing the breath of life), dan mencoba masakan lokal mereka (Hangi, earth oven baked meat and vegetables), seperti daerah lain maka tiap daerah ada dialek tertentu, daerah Hokiangan mereka Te Reo Maori.
Daerah Whirinaki di Hokianga baru terkena banjir beberapa hari lalu, ini adalah pasangan dari daerah itu. Charlie (tetua daerah) masih terus bekerja dan masih bisa tersenyum di foto ini, meski beberapa orang dari komunitasnya perlu relokasi dan rumahnya hanyut (stoic mentality masyarakat pedesaan)
Selanjutnya, kami pergi ke Hutan Kauri melihat Tane Mahuta (pohon 2500 tahun) "King of the Forest" yang memisahkan sky father dan earth mother (Papatuanuku) sehingga seluruh mahluk hidup bisa hidup dengan layak dan berdampingan secara harmonis. Selanjutnya melihat mulut teluk Hokianga dari Arai te Uru Nature Reserve.. Wefie bersama Margareth Broodkoorn (Ibu NZ saya & Direktur RS). Yang kalah menariknya adalah menyaksikan sunset dari The sands Hotel, menikmati kudapan dan Cocktail Blue Hoki
(Hari ketiga NZ) : Observasi Praktek Acute Care di RS dengan dr. Sean Hanna (bisa bahasa Maori), dan Ns. Catherine Beazley. Yang menarik bahwa semua informasi di RS ada versi Maorinya.
(Hari keempat di NZ) : Pergi ke klinik di Broadwood (perlu naik ferry dan nyetir 2 jam) bersama dr. Noelle Lee (GP dari Amerika, dengan sertifikasi Holistic Integrative Medicine) Tim di klinik terdiri dari GP, NP, RN, Kaiawhina (yang juga berfungsi sbg admin). Melihat dan belajar tentang Program berhenti merokoknya Toki Rau sangat baik dengan NRT yang lengkap. Setelah dari Klinik Broadwood pergi ke tempat Taumata Rongoa (traditional healer Maori) berpraktek di basement RS mereka biasa praktek bersama dr. Noelle sbg partner.
(Hari kelima di NZ) : Rotasi Klinik terakhir di pagi hari, lanjut diantar 1 jam dari Rawene ke Kerikeri, perjalanan bus 5 jam dari Kerikeri ke Auckland, Jalan jalan di malam hari di Auckland, makan di food stall Indonesia dan berbincang bincang dengan 2 orang Indo yang tinggal di Auckland satu budak Ponti, satu anak Bali, kata mereka NZ adalah negara bagi orang yang suka slow living dan bukan negara untuk jadi kaya !
(Hari keenam di NZ) : Precoference Workshop day & Rural WONCA assembly
Mendarat di Wellington Airport, sampai di Takina Wellington Covention Center, Mengikuti Workshop USG POCUS, Menghadiri Assembly Rural WONCA, menyaksikan Launching Project GRACE. Kemudian ikut Welcome Reception sekalian ramah tamah dengan Chair Rural WONCA dan penasihat yang merupakan para pencetus dan pendiri awal serta Past Chair Rural WONCA.
(Hari Ketujuh di NZ) : Hari pembukaan Rural WONCA, Plenary, boto dengan pasangan pembicara favorit opening plenary dr. Diana dan pak Mark, mereka bicara tentang worldview dan proverbs maori dan bagaimana hal tersebut semakin relevan dalam pelayanan kesehatan kita di masa kini. Foto bersama beberapa staff daru Haoura hokianga yang hadir di confrence. Makan siang dan berbincang-bincang dengan President WONCA dr. Viviana, hadir di Rural Seeds Cafe sharing tentang pelayanan kesehatan rural dan remote bersama para early career GPs, terakhir mengikuti Tur Wellington Zoo at Night.


(Hari kedelapan di NZ) : Menikmati udara dan atmosfir dengan jalan pagi dari hotel ke Takina Conference Center untuk menghadiri Rural GP Chapter "Hui" (musyawarah dalam bahasa Maori). Saya dan dr. Eifraimdio menyempatkan sharing di dalam Hui. Selanjutnya sebelum mulai plenary menyaksikan pertunjukan Te Kura Kaupapa Maori o Nga Mokopuna dari beberapa murid SD-SMP di Wellington dari ekskul yang melestarikan bahasa & budaya maori. Lanjut plenary hari kedua dimana Kaiawhina memerankan peran penting dalam primary care mental health. Lanjut menjadi Moderator 1x dan juri presentasi 1x pada sesi oral presentation. Mengikuti Workshop teman saya dr. Roshni Jhan Ganguly, Rural Wisdom from India. Plenary terakhir sore itu tidak akalah penting juga yaitu pengembangan teknologi untuk membantu pelayanan di daerah rural dan 3T. Malam mengikuti Gala dinner & awards night yang dihadiri oleh semua peserta dengan begitu antusias.
(Hari kesembilan di NZ), dimulai dengan menghadiri keynote lecture pagi oleh Prof Dee Mangin - General Practice for a Brave New Worl Disusul diskusi panel : Case studies of Succesfully Intergrating indigenous rural health models into rural practice around the globe, what can we learn? Pada sesi sore setelah makan siang integrasi maori rural health model (khas NZ) di berbagai setting. Menyaksikan Pidato yang bijaksana dan berani dari Dr. Jo Scott Jones mengakhiri hari ketiga Konferensi Rural WONCA ke-21. Beliau terpilih sebagai pembicara untuk pidato bergengsi John McLeod, sebuah tradisi yang menghormati salah satu anggota pendiri WONCA Pedesaan. Dr. Scott Jones berbicara jujur tentang perjalanannya sebagai seorang dokter umum muda yang datang dari Liverpool di Inggris ke Ōpōtiki, sebuah kota pedesaan di Aotearoa, tentang meluangkan waktu untuk memahami orang-orang yang dilayaninya, termasuk komunitas adat Te Whakatōhea. Kebijaksanaan dan kerendahan hatinya terlihat jelas saat ia berbicara tentang prinsip 'muntah' dalam advokasi dengan berbagi ide bagus berulang kali sampai Anda muak mendengar diri sendiri berbicara dan hubungan yang sangat nyata antara spiritualitas dan tubuh bagi orang-orang yang dilayaninya (dan bagi kita semua). Ia juga berbagi salah satu momen terendahnya saat bekerja sebagai dokter umum setelah kematian seorang pasien muda, dalam sebuah momen yang sangat mengharukan ! Ia mengakhiri pidatonya dengan menawarkan nasihat yang baik untuk para dokter umum muda yaitu jalinlah hubungan dengan orang-orang di sekitarmu, ikuti hasratmu, dan carilah kebahagiaan dalam praktikmu. Terima kasih Jo atas kepemimpinanmu, sebagai ketua bersama komite ilmiah pertemuan yang luar biasa ini, atas ketekunanmu dalam memajukan kesehatan pedesaan global, dan atas dedikasimu kepada komunitasmu.
Terima kasih buat dr. Dewanto Andoko yang telah berbagi pengalaman dan kebijaksanaan sebagai perjalanan penuh makna dalam menghadiri 21st WONCA World Rural Health Conference 2026 di Tākina Wellington Convention & Exhibition Centre, Wellington, Aotearoa New Zealand. (dr. Syarhan, MM, Sp.KKLP – Ketua ADPTI/IRRDA & Rural Wonca Council)


