Sejarah Etika Dunia: Dari Yunani Kuno hingga Era Modern

1/12/20263 min baca

a painting of a large crowd of people
a painting of a large crowd of people

Pengenalan Etika

Etika merupakan cabang filsafat yang membahas tentang baik buruk, benar salah, dan norma-norma yang mengatur perilaku manusia. Sejarah etika dunia sangat kaya dan kompleks, dimulai dari pemikiran kuno hingga perkembangan pemikiran modern yang dipengaruhi oleh berbagai budaya dan agama. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri perjalanan etika dari zaman Yunani kuno hingga saat ini.

Etika di Zaman Yunani Kuno

Abad ke-5 SM menandai awal yang penting dalam perkembangan etika dengan munculnya sosok-sosok besar seperti Socrates. Ia adalah pelopor yang menekankan pentingnya kebijaksanaan dan keutamaan diri. Pemikirannya bahwa kehidupan yang baik adalah hasil dari pemahaman dan penerapan nilai-nilai moral menjadi fondasi bagi banyak pemikir selanjutnya.

Salah satu tokoh yang tak kalah penting adalah Aristoteles, yang dikenal sebagai bapak etika. Aristoteles (384-322 SM), filsuf Yunani Kuno yang dikenal sebagai Bapak Etika, merumuskan etika teleologis yang berfokus pada tujuan hidup tertinggi, yaitu eudaimonia (kebahagiaan/kenyamanan). Etikanya menekankan perilaku bajik (kebajikan moral) melalui jalan tengah (golden mean) dan watak yang baik. Karya utamanya, Etika Nikomakea, menekankan bahwa manusia harus bertindak rasional untuk mencapai kebahagiaan Ia merumuskan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan atau eudaimonia, yang dapat dicapai melalui tindakan berbudi luhur. Konsep ini mencerminkan hubungan erat antara etika dan tujuan hidup manusia dalam pandangan filsafat klasik.

Pengaruh Agama pada Etika Abad Pertengahan

Memasuki abad pertengahan, etika mulai dipengaruhi oleh ajaran agama, terutama Kristen dan Islam. Dalam konteks ini, nilai moral seringkali dikaitkan dengan perintah Tuhan. Tokoh Islam seperti Ibnu Miskawaih: filosof terkemuka bidang etika Islam yang dikenal sebagai Bapak Etika Islam, lahir di Rayy, Iran pada tahun 320 H (932 M) dan wafat di Isfahan pada 9 Shafar 421 H (16 Februari 1030 M). Ia hidup dan berkarya pada masa Dinasti Buwaihi (320-450 H), berupaya merumuskan etika dalam konteks Islam melalui karyanya yang terkenal, Tahdzib al Akhlaq, yang menggarisbawahi pentingnya akhlak baik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan teologis ini, moralitas tidak hanya berdasarkan pada rasionalitas manusia, tetapi juga berakar pada keyakinan akan adanya nilai-nilai moral yang ditetapkan oleh Tuhan. Hal ini menyebabkan perkembangan etika yang tidak dapat dipisahkan dari konteks religius.

Etika Modern dan Otonomi Manusia

Etika modern barat banyak dipengaruhi oleh pemikiran Immanuel Kant: (1724-1804), seorang filsuf Jerman, yang dikenal sebagai bapak etika modern, teori deontologi Kant, yang menekankan kewajiban moral dan prinsip universal, menjadi landasan krusial bagi etika perilaku dalam organisasi modernKant menekankan otonomi manusia sebagai pusat dari moralitas, mengembangkan gagasan tentang kewajiban moral yang universal. Dalam pandangannya, tindakan moral harus didasarkan pada prinsip yang dapat diterima secara umum, bukan pada hasil yang diharapkan.

Pemikiran Kant sangat berpengaruh dalam memahami etika saat ini, serta bagaimana individu mempertimbangkan tanggung jawab moral mereka di dalam konteks masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, sejarah etika dunia mencerminkan perkembangan yang terus-menerus dari pemikiran filosofis, teologis, dan moral yang membentuk nilai-nilai kita sampai saat ini.

Etika organisasi adalah

seperangkat nilai, prinsip, dan standar moral yang memandu perilaku individu dan kelompok dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan bersama secara bertanggung jawab, membangun kepercayaan, dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, mencakup kejujuran, transparansi, keadilan, dan kepatuhan terhadap aturan serta budaya organisasi.

Elemen Penting dalam Etika Organisasi

  • Kejujuran dan Transparansi: Komunikasi yang terbuka, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan antar anggota dan dengan pihak eksternal.

  • Keadilan: Memperlakukan semua anggota secara adil dan setara.

  • Tanggung Jawab: Bertindak sesuai wewenang, menjaga kerahasiaan, dan bertanggung jawab atas tindakan.

  • Integritas: Melakukan hal yang benar bahkan saat tidak menguntungkan, sesuai nilai organisasi.

  • Kepatuhan: Mengikuti standar operasional, tata kerja, dan kebijakan yang berlaku.

  • Pengembangan Diri: Memiliki kompetensi, kreatif, dan inovatif untuk meningkatkan kinerja.

  • Tanggung Jawab Sosial: Mempertimbangkan dampak terhadap pelanggan, masyarakat, dan lingkungan.

Manfaat Etika Organisasi

  • Membangun Kepercayaan: Meningkatkan kepercayaan dari karyawan, pelanggan, dan masyarakat.

  • Meningkatkan Kinerja: Menciptakan lingkungan kerja yang sehat, nyaman, dan memotivasi.

  • Reputasi Positif: Membangun citra baik dan reputasi yang kuat untuk organisasi.

  • Keberlanjutan: Membantu organisasi bertahan dan sukses dalam jangka panjang.

Implementasi: Etika organisasi seringkali tertuang dalam kode etik yang menjadi pedoman perilaku, membentuk budaya organisasi, dan memandu keputusan serta kebijakan, memastikan perilaku selaras dengan nilai yang dianut